Mencinta Dengan Cara Awam - Bagian 1



'This is love: to fly toward a secret sky, to cause a hundred veils to fall each moment. First to let go of life. Finally, to take a step without feet.” ~ Rumi.


Sudah sejak 4 tahun yang lalu Karbala Walk - the largest gathering on earth - menggoda seperti memanggil manggil untuk hadir,  ditambah pernah menonton film tentang peristiwa Karbala yang menyayat hati, menggetarkan aspek kemanusiaan siapapun, tak peduli berasal dari mana dan agama apa. 

Kami tidak pernah mempelajari Syiah secara mendalam, hanya mendengar melalui pembicaraan dalam pergaulan saja atau membaca sekilas di internet yang diwarnai berbagai kesimpang siuran opini masing masing. 

Banyak yang mungkin melihat kami yang sangat ‘random’ di saat kesempatannya tiba, kami memutuskan this is it..ini saatnya pergi. 

Ada juga yang berkomentar ‘apa kabar dengan akidahmu’ (ini komen yang aneh, kenapa tidak ada komentar yang sama saat pergi ke Amerika misalnya), atau diam diam mencibir sambil menilai bahwa kami sudah menjadi syiah. Tapi seperti biasa prinsip kami ‘biarkan penonton sibuk menilai para pemain bola’, yang faham rasanya bermain bola ya para pemain bola.   

Mungkin ziarah bukan kata yang cukup umum untuk menjadi salah satu cara ‘bermain yang serius’ karena ada beberapa pendapat yang menganggap ziarah sebagai bid’ah. 

Bukan kapasitas kami yang bodoh dan tak punya ilmu mumpuni untuk memperdebatkan hal ini.

Yang jelas bagi kami pribadi,  rasanya sudah cukup bermain dengan eksplorasi hawa nafsu yang menjadi bagian besar dari kegiatan liburan.  Sudah sejak beberapa tahun terakhir,ketika mulai memahami ‘olah rasa’,  berpetualang mulai dialihkan mencari makna lain bukan sekedar pergi dan menikmati kuliner atau wisata alam saja, itu ‘lemak’ nya, tapi saripati rasa sebuah perjalanan menjadi PR utama kami. Meskipun yaaa masih tergoda pergi kesana kemari, maklum namanya juga anak muda :D

Bersyukur berada dalam kelompok kajian yang kadang melakukan beberapa perjalanan dalam negeri yang diwarnai dengan mengunjungi jejak para imam dan wali bahkan mencari makna dari banyak tempat bersejarah tersebut. Dan olah rasa menjadi bagian dari kehidupan keseharian, iya betul ..butuh berlatih untuk mencari makna dari banyak fenomena yang Allah hamparkan di setiap sudut bumi.

Beberapa tahun yang lalu sebelum covid mendera dunia, Alhamdulilah mendapat karunia menjelajah Yerusalem, jump in dari satu lokasi ke lokasi lain termasuk makam para nabi, menikmati jejak kehidupan nabi Isa, menyelami nilai rasa perjalanan Nabi Muhammad SAW ketika menembus sidratul muntaha dan sholat di Mesjidil Aqsho tempat pertama diturunkannya perintah Shalat sambil sedikit was was saat melewati gate yang selalu dijaga tentara Israel. Ternyata  adrenalin tidak harus diolah dengan petualangan menyelami lautan atau mendaki gunung.

Setidaknya ada hal yang berubah saat mengeluarkan dana untuk perjalanan berikutnya, ‘minimal aspek rasa dari tiap perjalanan ini mudah mudahan membuat kami mendapat pencerahan (mungkin type pembelajar kinestetik memang harus digeret tubuhnya supaya faham karena kalau duduk di kelas kajian tergoda dengan kantuk atau tidak mengerti karena kebodohan kami saja) 

Mempersiapkan perjalanan ini memang  challenging, dari mulai mencari travel agent yang melakukan perjalanan Arbain (susah bagi kami yang tidak pernah bergaul dengan kelompok AB /ahlul bait)  sampai persiapan pakaian yang musti cermat betul ternyata (ukuran jilbab, warna dan ornamen di pakaian sampai seberapa jauh tertutupnya aurat wanita).

Kali ini ‘menghilangkan raga’ dari aspek memperlihatkan diri dan menonjolkan outfit jadi sangat penting. Mungkin bagi para ladies yang terbiasa membuat postingan OOTD (outfit of the day) kali ini akan mati kutu karena OOTD tiap hari akan sama, warna gelap atau hitam dengan jilbab lebar tanpa ornamen serta kaos kaki.  Yang biasa memakai pakaian dengan aneka warna meriah dari mulai warna merah fanta , fusia sampai hijau sage (aslinya saya suka takjub dengan gradasi warna fashion ini)  mungkin akan sedikit shock ketika mempersiapkan perjalanan.

Harusnya bagi kami tidak masalah, bukankah kami memang sudah dilatih untuk ‘menghilang di tengah keramaian, mati sebelum mati?.  Yang terpikir adalah kendala pakaian berlapis di cuaca yang saat kami pergi baru 1 minggu lepas puncak musim panas (45 – 46 derajat). Seberapa banyak pakaian yang harus dibawa, terutama pakaian wanita dengan segala printilannya yang ternyata bisa memenuhi koper.  

Tapi ternyata setelah kami tiba, yang paling penting adalah mempersiapkan diri menemukan banyak fenomena menakjubkan selain menghadapi perbedaan perbedaan, dari mulai perbedaan fiqh dalam beribadah seperti sholat sampai cara membangun makna dan rasa sepanjang proses perjalanan Arbain.

Kami yang menganut mazhab Syafii cukup terkesan ketika memahami perbedaan dengan mazhab Ja’fari yang bukan hanya di ruang diskusi online melalui posting postingan namun melihat bagaimana memperlakukan tempat sujud yang berbeda namun bisa sholat bersebelahan dengan kami yang masih bersidekap dan menggunakan kain sajadah sebagai alas.


(bersambung)


Comments

Popular posts from this blog

Kembali ke Rumah Mu Dengan Penuh Rasa

Mencinta itu Melepaskan...

Masura Bagatta, Mentawai..