Mencinta dengan Cara Awam - Bagian 4 : Kufa
![]() |
| Wadi Al Salam |
Sebelum memulai perjalanan Long march, kami diinapkan di Najaf (Kota berjarak kurang lebih 90 Km dari Karbala).
Alhamdulilah masih dapat hotel yang cukup baik berjarak kurang lebih 300 meter ke shrine Imam Ali dengan penyediaan makan 3 kali sehari yang dikelola ustad bersama anak anak Indonesia yang sedang bersekolah di sana.
Di kota Najaf inilah bersemayam Sayidina Ali bin Abi Thalib sehingga dijadikan awal mula napak tilas long march tragedi Karbala. Dekat dengan Shrine Imam Ali terdapat Wadi Al Salam, kuburan terbesar dan tertua di dunia (917 Hektar dan sudah dipakai sejak abad ke 7).
Pantas saja ketika kami nekad berkunjung ke Wadi berdua saja, terlihat pemakaman yang sangat luas memenuhi salah satu bagian Kota Najaf, uniknya makam disana itu memakai semacam batu nisan besar - besar bahkan di beberapa spot banyak yang menyimpan foto dari orang orang yang dikuburkan di sana .
Suasana Shrine Sayidina Ali sangat padat baik siang maupun malam hari sehingga ketika kami pertama kali berziarah tidak bisa memasuki shrine saking padatnya oleh para peziarah.
Memang diakhir masa Arbain (1 minggu atau H-5) Najaf menjadi sangat padat karena semua peziarah tumplek disana sehingga kadang sulit menemukan tempat untuk menginap.
Beberapa masjid lainnya merupakan jejak makam dari nabi nabi dan orang sholeh lainnya. Makam dalam arti di lokasi tersebut pernah digunakan /dimampiri untuk beribadah.
Biasanya sebelum memasuki Shrine semua orang wajib memasuki check point pemeriksaan tas dan tubuh (laki laki dan wanita terpisah) . Dan ini dilakukan di semua tempat ziarah baik di Irak maupun Iran.
Bahkan di beberapa lokasi di Iran saking ketatnya kalau kita membawa botol minuman berisi air, di check point kita diminta meminum air yang dibawa (mungkin takut terjadi sabotase dengan membawa racun).
Itenerary dari rombongan di awal kedatangan selain ke makam Imam Ali juga melakukan ziarah ke beberapa situs dan masjid di sekitar kota Kufa yang berjarak 10 km dari Najaf , pake mobil yaa, bukan jalan kaki😆
Beberapa mesjid yang dikunjungi diantaranya mesjid Hanana yang konon benda benda dalam mesjid ini saksi bagi rasa duka mendalam pada kematian Imam Husein cucu Nabi Muhammad SAW) karena di mesjid ini kepala Husein cucu kesayangan Nabi yang terpisah dengan badannya dimampirkan sebelum memasuki kota Kufa.
(hingga saat ini berbagai versi tentang lokasi pemakaman kepala Husein dari mulai Madinah, Mesir sampai Damascus).
![]() |
| Imam Ali Shrine |
Masjid dan tempat bersemayam /kuburan kadang bentuknya sama karena sama sama mempunyai kubah di bagian atas bangunan megah. Namun biasanya terdapat lokasi sholat yang menghadap kiblat dan terpisah dari tempat persemayaman dan menghadap kiblat.
Situs bersejarah lainnya yang kami kunjungi di sekitar Kufa adalah Mesjid Kumail , tempat disemayamkannya Kumail, murid setia Sayidina Ali bin Abi Thalib yang menyimpan berbagai rahasia Imam Ali yang dibunuh oleh Muawiyah.
Di sana kami sempat melakukan shalat jamaah Magrib dan Isya. Kemudian mengunjungi masjid Syahla yang konon sempat disinggahi Nabi Ibrahim as, Nabi Idris as, Nabi Khidr dan makam para Nabi, Rasul dan Aulia.
Yang terakhir adalah masjid Kufa salah satu masjid tertua di dunia yang konon di bangun oleh Nabi Adam dan direnovasi oleh Nabi Nuh setelah banjir bandang besar .
Mesjid Kufa menjadi masjid ke 4 yang sering didatangi para peziarah selain Mesjidil Haram, Nabawi, Mesjidil Aqsha. Di Mesjid ini tempat dimana Sayidina Ali bin Abi Thalib dipukul kepalanya dengan parang beracun saat memimpin sholat shubuh dan wafat dua hari kemudian.
Di dalam masjid Kufa ini terdapat makam (tempat yang pernah digunakan untuk beribadah) Nabi Adam(tiang ke tujuh mesjid) dan Maqam Nabi Nuh (tiang ke empat mesjid), serta tempat pemakaman para imam dan orang orang shaleh di sebelah mesjid.
Di masjid inilah tempat sayidina Ali Bin Abi Thalib memimpin umatnya saat menjawab berbagai pertanyaan dan menghakimi masalah masalah yang terjadi .
Masih dalam satu kawasan terletak rumah Sayidina Ali bin Abi Thalib yang meninggalkan jejak sejarah bagaimana Ali memimpin rumah tangganya.
Rumah yang tidak terlalu luas dan telah dilakukan beberapa kali renovasi ini terdiri dari beberapa ruang dan di bagian sisi tembus ke arah halaman samping yang sekarang dipasang tempat mengambil air minum dari sumur. Konon sumur ini adalah sumber air yang digunakan seluruh keluarga Sayidina Ali untuk minum dan kebutuhan sehari hari, bahkan menjadi sumber air Ketika memandikan jenazah Sayidina Ali saat wafat. Di dalam rumah terdapat kamar Hasan dan Husein serta beberapa ruang yang dikaitkan dengan Sayidah Zainab SA, Ummu Kultsum dan Ummu Banin.
Meskipun masih dalam perdebatan mengenai rumah ini dan keterkaitannya dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib namun banyak hal menjadi suri tauladan dari kehidupannya yang perlu diteladani.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib terkenal sebagai seorang ayah yang bijaksana dalam mendidik anak anaknya, ia memberi contoh baik dan keteladanan. Prinsip pendidikannya menjadi salah satu kiblat dari Pendidikan modern. Imam Ali mencontohkan bagaimana 7 tahun pertama kehidupan seorang anak diperlakukan bak seorang raja, dilayani dan dipenuhi segala keperluannya.
Kemudian ditahap umur berikutnya saat kemampuan berfikir mulai berkembang serta mampu membedakan benar dan salah di usia 8-14 tahun. Maka saat itulah Sayidina Ali bin Abi Thalib mendidik anak anaknya untuk mulai bertanggung jawab dan memiliki hak serta kewajiban.
Dan pada usia remaja sampai menjelang dewasa saat anak beranjak aqil baligh, Sayidina Ali memperlakukan mereka sebagai sahabat dengan tetap memberi contoh dan suri tauladan yang baik.
Dalam sebuah sumber, sayidina Ali sangat memahami bahwa setiap anak itu mempunyai keunikan dan karakter masing masing sehingga ia mendidik dengan cara mengembangkan keunikan mereka. Sebagai contoh bagaimana Hasan dan Husein dilibatkan dalam diskusi mengenai agama karena kemampuan berfikir kritis mereka.
Ternyata dasar dari konsep pendidikan modern yang sudah ada sejak jaman dahulu misalnya yang dikemukakan oleh Piaget dengan kategorisasi keterampilan berfikir sesuai umur anak sangat sejalan dengan konsep Sayidina Ali yang memperlakukan anak dibawah 7 tahun dengan cara berfikir mereka yang masih kongkrit, dan penuh dengan imajinasi dan saat tahap berikutnya ketika anak berkembang kemampuan berfikir abstrak maka mulai diajarkan menganalisa hal hal yang sifatnya abstrak seperti membedakan hal hal yang berhubungan dengan moral dan perbuatan benar dan tidak benar.
Tidak salah bila Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan, "Aku adalah kota ilmu sedangkan Ali adalah pintunya."
![]() |
| Mesjid Kufa |
![]() |
| Kupon makan dari Syahla |
![]() |
| interior salah satu mesjid |
![]() |
| Kumail |
![]() |
| Hanana |
![]() |
| Interior bertabur cermin, Imam Ali Shrine |
![]() |
| Seluruh warga bersiap menyambut peziarah |
![]() |
| Di kota Najaf sudah banyak yang bersiap membagi makanan |
![]() |
| Para peziarah beristirahat di pinggir jalan |

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpeg)

.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

Comments
Post a Comment