Tentang rafting
Rafting di tahun 90 an saat saya masih kuliah itu masih menjadi kegiatan memicu adrenalin dengan banyak kendala yang harus dilalui mahasiswa bokek macam kita. Trend arung jeram belum menjadi wisata seperti saat ini, sungai masih terlihat 'mengerikan' karena perahu karet meski sudah ada yang safe bailing - fitur yang ada pada perahu karet yang memungkinkan perahu secara otomatis membuang air yang masuk. Kalau yang non self bailing memerlukan alat manual untuk membuang air . Harganya juga berbeda antara dua jenis perahu ini dan saat itu perahu safe bailing hanya sedikit yang sudah dimiliki para penggiat pecinta alam dan arus deras.
Merk perahu Avon sangat hits di kalangan penggiat arung jeram karena
cukup durable untuk dipakai terbanting banting di jeram jeram besar di
sungai, meskipun kami seringkali hanya mendapat pinjaman perahu yang
tidak safe bailing . Maka perlengkapan membawa ember menjadi perlengkapan wajib
untuk mengeluarkan air dari dalam perahu selama pengarungan.
Saat ini, rafting sudah menjadi kegiatan wisata yang dengan mudah
didapatkan di berbagai sungai di kota kota di Indonesia, dari mulai grade
sungai paling rendah yang unyu unyu sampai grade tinggi untuk para pemicu
adrenalin. Potensi sungai di seluruh Indonesia memungkinkan perkembangan wisata
rafting di berbagai sungai dengan level kesulitan berbeda.
Apa sih yang didapatkan dari kesenangan di alam seperti itu selain
seringkali mengalami jatuh dan terbawa arus, terminum air sungai karena panik
saat jatuh, memar memar bahkan paling sering kejadian kehilangan HP (yang
keukeuh dibawa ke sungai) . Kalau dulu saya cuma menjawab 'because the
adventure is there' ada adrenalin yang mengucur deras saat di
sungai, ada kesenangan saat deg degan akan melalui jeram jeram yang tidak bisa
diprediksikan apakah membawa perahu lolos atau terbalik menumpahkan seluruh
penumpang yang harus bertahan hidup dengan berenang dalam arus ke pinggir
sungai.
Itu dulu, 30 tahun yang lalu, saat masa remaja yang kurang berfikir
panjang dan mengejar kesenangan fisik saja yang dicari. Saat ini? yaaa masih
tersisa sih excitingnya kalau menemukan hal baru, menyenangi perjalanan dalam
berpetualang, masih menyenangi sungai dan laut.
Tapi sejalan dengan usia, saya memandang hal hal ini dengan cara
berbeda, ada hal hal yang akhirnya tersingkapkan dan dapat menjadi
pembelajaran dalam hidup .
Terbayang tidak bila kita musti melakukan pekerjaan dari mulai
mengangkat perahu , memompa dan menurunkan ke sungai di medan yang menurun
sendirian? pasti tak bisa, atau bahkan malah jadi lelah sendiri sebelum
mengarungi sungai. Saya belajar banyak soal berjamaah dalam rafting. Ada saat
saat semua sejajar, harus bekerjasama. Tak ada bos atau anak buah kalau saatnya
mengangkat perahu menuju sungai ya musti bersama sama seluruh orang yang akan
naik di perahu bantu membawakan perlengkapan. Jangan harap semua bisa
difasilitasi dan dilayani orang lain, apalagi berharap digelar red carpet di
perjalanan menuju sungai.
Rasulullah pernah bersabda Aku perintahkan kepada kalian (kaum muslimin)
lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu;
hidup berjamaah, mendengar, taat, hijrah dan jihad fi sabilillah (HR Ahmad dan
Tirmidzi)
Urutan
pertama dalam lima perkara yang Allah perintahkan itu ya hidup berjamaah dulu.
Artinya dalam melakukan apapun kegiatan di dunia, kita akan selalu membutuhkan
orang lain, maka berjamaah menjadi salah satu kunci dalam berkehidupan seorang
muslim
Bahkan
dalam petualangan solo macam bermain kayak atau diving membutuhkan tim support
atau buddies yang akan saling menjaga keselamatan masing masing. Kalau dilihat
saat ini, manusia semakin individualistis, semakin merasa semua hal didasarkan
atas kekuatan diri, merasa tidak membutuhkan orang lain untuk berkolaborasi
bahkan lebih jauhnya kadang lupa ada dzat yang bisa menentukan dengan 'kun
fayakun'Nya.
Dengan rafting banyak sekali pembelajaran melalui kehidupan yang bisa disampaikan pada anak anak di masa kini yang kadang cenderung menempatkan diri sebagai mahluk a sosial yang tidak merasa membutuhkan bersosialisasi dengan orang lain karena seluruh kebutuhan yang telah terpenuhi dengan kemudahan kemudahan fasilitas dan teknologi
Januari 2024 setelah beberapa bulan tidak melakukan pengarungan, akhirnya ada kesempatan mencoba sungai di Pariaman saat transit di Padang sepulang dari Mentawai. Lama tidak turun ke sungai, lama tidak menyerahkan sepenuhnya keselamatan diri pada skipper pastinya jadi cobaan banget buat saya.
Apalagi bertambah tua makin suka merasa paling faham hidup dan cara menjalani hidup 😅Saat itu perahu yang bagusnya diisi 5 orang bersama skipper hanya diisi berempat, gawat nih , harus kerja keras mendayung di usia yang sudah tidak muda lagi batin saya. Saya sudah skeptis saja melihat teman satu perahu, 2 gadis yang belum pernah rafting dan terlihat lemah lembut (ah ini pasti kurang tenaga). Jadi saya banyak berdoa saja saat itu semoga diberi keselamatan, memasrahkan sepenuhnya pada Allah dan pada ahlinya sang skipper.
Saya belum pernah turun di Sumbar jadi tak bisa memprediksi grade dan karakter sungainya, apakah sama dengan di Jawa atau di Bali tempat saya dulu pernah rafting. Tapi Skipper meyakinkan grade nya maksimal di grade 3 apalagi saat itu belum musim hujan.
| Ica |
| Mey |
![]() |
| Kalau tak nurut apa kata skipper sepertinya akan kelempar juga nih |
![]() |
| skipper bekerja keras |
Salah satu prinsip berjamaah dalam Islam pun perlu diterapkan, pemimpin bukan orang yang pertama menikmati hasil, pemimpin adalah orang yang terakhir menikmati hasil.Umar bin Khathab pernah berkata,
''Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya."
Dan umar Umar pun berkeliling membagikan makanan saat bencana kelaparan melanda dan dia yang terakhir makan karena mendahulukan rakyatnya.
Ya itulah pemimpin, dia yang harus menjadi yang terakhir senang, yang terakhir kelihatan mukanya di dokumentasi, bahkan kadang karena sibuk pelayanan pemimpin tak pernah terlihat sama sekali di media.
| Makanan khas pariaman saat istirahat di tengah perjalanan,enak banget |
Saya pernah berada dalam satu perahu bersama orang orang keren yang dominan dalam kehidupan sehari hari, para pemimpin perusahaan dan para pemegang keputusan dalam sebuah organisasi.
Ini jadi ujian pastinya, karena orang orang yang terbiasa menganalisa, mengambil keputusan biasanya akan merasa cara pandang dia yang terbaik. Merasa paling tahu dan mengerti harus mengejar arus yang mana supaya selamat. Padahal bila di sungai, skipper lah yang sebetulnya lebih faham karena sudah sering turun di spot sungai tersebut, memahami jalur perjalanan bahkan hafal letak batu besar yang kadang tersembunyi di balik arus. Hasilnya ketika rafting berlangsung beberapa kali terjebak jepitan arus sungai dan bebatuan yang keras dan diakhiri dengan perahu yang tumpah terbalik ketika menerjang tebing.
Itu disebabkan anggota tim dalam perahu yang kadang semaunya sendiri karena merasa pintar menganalisa situasi dan meragukan skipper.
Ternyata dalam berpetualang juga banyak hal yang dalam al Quran ikut 'bunyi' kalau kita mau menarik pelajaran di dalamnya. Terpikir anak anak remaja perlu sekali belajar untuk menarik pelajaran pelajaran cara bersikap dalam hidup dari kegiatan bermain atau menantang adrenalin ini.


Comments
Post a Comment