Mencinta Dengan Cara Awam - Bagian ke 6
Sulit diungkapkan dengan kata-kata apa yang didapatkan dalam perjalanan selama beberapa hari Arbain Walk. Berjalan sekitar 100 Km bersama ribuan orang tanpa berdesakan atau saling sikut atau saling menyakiti satu sama lain, Bergabung bersama banyak orang yang berasal dari seluruh penjuru dunia, berjalan menyusuri jalanan menuju Karbala. Terbayang saat kita antri dan berjalan di padang Mahsyar nanti bersama milyaran manusia.
Bagi kaum Syiah, Arbain ini menjadi ritual suci karena menjadi momen mengenang dan menghormati kematian Imam Husen cucu Rasulullah beserta pengikutnya yang menolak menerima kepemimpinan khalfah Yazid 1. Kami yang Sunni ini merasakan juga suasana haru biru dalam rangkaian ziarah, tidak hanya saat Arbain Walk namun juga saat berkunjung ke banyak situs situs seperti tempat persemayaman para imam dan iman Ali.
Rasanya berbagai hal saat Arbain menjadi sebuah simbol dari ekspresi batin yang melibatkan aspek fisik. Saya merasakan dengan berziarah, ikut serta dalam perjalanan, menjadi takjub dengan banyak sekali hal ajaib di perjalanan selama 18 hari dan merasakan bagaimana kecintaan pada keluarga Rasul terasa dalam setiap detik kebersamaan bersama para peziarah lain. Yang paling berharga adalah semoga saya menjadi lebih memahami dan semoga menemukan jalan untuk semakin dekat dan didekatkan kepada Nya.
Ritual-ritual yang diimplementasikan dalam bentuk laku juga ada di berbagai agama dan kebudayaan, umat Hindu ada yang melakukan ritual berjalan kaki puluhan kilometer menuju kuil sebagai bentuk pertapaan. Ritual yang disebut dengan Thaipusam ini identik dengan ritual yang ekstrim dan menantang untuk menunjukkan ketaatan pada Tuhan dalam agama Hindu. Di kebudayaan Mentawai para Sikerey (tabib, ketua adat) menari semalaman memohon keselamatan dan kesehatan. Namun dibalik itu terkandung nilai spiritual dan pengorbanan yang sangat dihormati.
Arbain Walk menjadi sebuah penanda bagaimana masyarakat di sana berusaha mengkhidmati arti pelayanan dan berbuat baik kepada siapapun. Semua orang berdatangan dari jauh untuk 'ngalab berkah' dari melayani para peziarah. Bahkan ada yang sengaja berkelompok membuat dapur dapur umum selama 24 jam tiada henti menyediakan makanan minuman.
Banyak yang bercerita bahwa ada juga orang-orang yang menabung sepanjang tahun hanya supaya bisa memberi pelayanan pada para peziarah saat Arbain Walks. Mereka betul betul ngalab berkah dari Imam Husein. Duh jadi malu yang nabung sepanjang tahun hanya buat pergi ke sana ke mari 😌
Banyak kelompok kelompok yang membuka semacam dapur umum di pinggir jalan, betul betul mengangkut perlengkapan masak dan keluarga besarnya, mendirikan tenda tenda yang dilengkapi dengan AC dan WC portable untuk tempat istirahat jamaah.
Para wanita membuat roti khas setempat yang dibakar dengan cara ditempelkan di permukaan tong yang panas. Harumnya menyeruak ke seluruh sudut tempat istirahat pertama kami. Bahkan kami diperbolehkan comot comot roti hangat yang baru selesai di bakar.
Betah banget, menikmati roti panas sambil ngadem dalam tenda darurat yang berasa mewah saat itu. Maunya sih tidak melanjutkan perjalanan hihihi..tapi kan masih 90 km to go.
Saat perjalanan tidak ada perbedaan kasta, tidak terlihat perbedaan antara orang yang mempunyai kedudukan atau harta kekayaan luar biasa di negaranya atau seorang cendekia dengan yang lain. Identitas yang memperlihatkan kedudukan yang selama ini dibanggakan lebur menjadi dua kelompok saja, para pelayan dan peziarah.
![]() |
| Berjalan membawa keluarga |
![]() |
| Moment ter panas saat jalan |
Pakaian kami sama, tidak gemerlap, tidak perlu memperlihatkan gelang dan kalung emas karena tertutup rapat, tidak ada rombongan khusus dengan perlakuan khusus, semuanya sama. Bersyukur menjadi saksi bagaimana orang orang yang terbatas secara fisik dengan bersemangat tertatih ikut berjalan, yang membawa bayi dan anak balita yang lelap dalam stroller, yang berjalan tanpa alas kaki dengan pakaian seadanya.
Capek jalannya?
Ya capek lah, apalagi bagi orang yang jarang olahraga, cuma latihan 6 km aja jalan pagi (dengan pace macam kura kura). Kami mulai berjalan sore hari, matahari masih terik, suhu sedang panas panas nya saat itu. Biasanya jalan sampai jam 2 dinihari untuk sampai ke beberapa tempat istirahat yang sudah ditandai rombongan kami. Kalau sudah lewat tengah malam, beberapa kali saya berjalan tertidur sambil memberati tangan partner in crime saya.
Perasaannya mirip dengan orang yang mengandung. Ada saat saat mual males makan (aneh ya), ada saat saat sangat lelah dan berat membawa badan, namun saat setelah semua selesai rasanya seperti orang habis melahirkan, hilang semua lelah, berat berganti dengan suka cita. Semoga ada yang 'tumbuh' dalam diri yang selepas perjalanan semakin 'membesar'
Saya merasakan ketulusan saat penghuni rumah di pinggir jalan mencoba berkomunikasi dengan bahasa mereka, menawarkan istirahat di rumah rumah. Beberapa anak gadis lokal mengajak ngobrol dan akhirnya saling follow dan DM IG 😍 . Mereka sangat exciting bertemu dengan orang yang berbeda, mengajak berbincang menanyakan seperti apa Indonesia dan saya pun sangat bersemangat menanyakan ritual setiap tahun ini menurut mereka.
![]() |
| biasanya nasi 'rames'tersedia dimana mana |
![]() |
| Makanan mewah di salah satu rumah tempat istirahat |
Kata kuncinya satu kok 'pelayanan', memberi pelayanan pada para peziarah tanpa pilih pilih, tanpa harus kenal, semua ingin mendapatkan keberkahan.
Kadang suka malu sendiri dengan kemanjaan saat bepergian, maunya dilayani, mudah protes akan fasilitas yang kurang di hotel misalnya, mau berdharma di perkampungan tapi masih anti 'bau matahari'yang menyeruak dari anak anak kampung.
Seperti ditampar kalau mengingat sifat kita yang masih suka membanggakan hal yang melekat pada diri , kedekatan pada saudara atau teman yang berdasar harta dan kedudukan. Menganggap seseorang berkualitas dan layak dihormati karena dia memiliki kedudukan tinggi dan memiliki kekayaan berlimpah. Mengingat ingat kembali, kenapa coba bila orang yang dianggap keren yang hadir ke sebuah tempat atau ke rumah kita betapa sibuknya memikirkan service terbaik, penampilan terbaik, bahkan memisahkan tempat duduk undangan antara órang istimewa' dengan yang lain.
Sementara para orang shaleh dengan kesederhanaannya kadang tersembunyi di pojok pojok ruang sepi, sibuk memanjat doa pengampunan untuk diri dan orang orang di sekitarnya, selalu 'tersembunyi' dan luput dari pandangan manusia.
Rasulullah pernah berdoa agar Allah menjadikan dirinya meninggal dan dikumpulkan bersama orang orang miskin di akhirat .
Mencintai orang miskin adalah pembuktian akan rasa ikhlas, karena di dunia yang transaksional ini kadang kita memberi dengan niat lain yang menyelinap dalam hati kita, kebutuhan akan penghargaan, akses pada sesuatu, dianggap sejajar, mendapat mantu orang terkenal #eh. Lolos atau tidak kah kita dari ujian rasa yang menyelinap halus dalam diri? duh, saya musti banyak taubat dan istighfar ..
Dari Úqbah Ibn Ámir al-juhani, Rasulullah bersabda Nasab nasab kalian tidak bisa dijadikan alasan untuk mencaci maki seseorang, manusia itu setara bagai permukaan air di ember yang penuh dan semuanya adalah keturunan Adam. Tidaklah seseorang lebih unggul dari yang lainnya kecuali dalam hal agama dan ketakwaannya kepada Allah (HR Ahmad)
Sebenarnya di program ecoethno 10 tahun terakhir, kata empati, menghargai, tidak membedakan mewarnai setiap petualangan anak anak dan remaja peserta camp liburan ke berbagai daerah. Harapannya jiwa melayani orang lain menjadi terpatri, sehingga kalau suatu saat menjadi pemimpin di masa dewasa akan menjadi seorang 'servant leaders', menjadi orang yang lebih baik dan berpihak pada orang orang yang lemah, tanpa pandang bulu.
Doakan ya
(bersambung, kapan kapan kalau sedang mood)







Comments
Post a Comment