Menapaki jejak kaum Sufi - Uzbekistan (1)
![]() |
Ada banyak motivasi orang untuk bepergian, berpetualangan, my trip my adventure atau apapun sebutannya..Metamorfosis kami sepertinya terjadi dalam 10 tahun terakhir sejak bergabung mengaji di sebuat Tarekat Sufistik di Bandung (Kadisiyah namanya). Cara, tujuan, tempat pergi, sampai cara bepergian mulai berubah sedikit demi sedikit.
Kalau dulu kami ditanya, mengapa pergi ke sungai ini itu, mengejar petualangan di berbagai daerah terpencil.. jawaban kami 'because its there'.
Ya begitu aja, hanya keinginan (jangan jangan hawa nafsu) yang berdentam setiap kali tanggalan berwarna merah.
Sekarang? semoga tagline yang kami dengungkan dalam diri 'berpetualang bermakna' masih bisa dengan konsisten kami lakukan.
Bepergian tidak hanya 'just it is', 'ingin pergi aja', tapi mulai mencari makna dalam setiap perjalanan, dalam setiap langkah menuju destinasi, bahkan dalam setiap gigitan kuliner daerah yang selalu memikat.
Pesan murabi saya, beberapa jam sebelum kami terbang ke Uzbekistan, bersafar itu artinya kita mengosongkan diri saat berkunjung ke sebuah tempat agar semesta mengajarkan banyak hal dari tempat tersebut kepada kita.
terbayang tidak sebuah gelas yang penuh berisi air, akan meluber apabila diisi air kembali. Namun, diri kita meski dikosongkan tetap saja harus ada 'wadah' nya, yaitu pengetahuan awal akan tempat yang akan dikunjungi. Tetap harus membekali diri dengan ilmu karena saat pengetahuan ada dalam diri maka wadah akan menjadi siap menampung lebih banyak pelajaran dari semesta.
Maka membaca baca sedikit mengenai lokasi yang akan dikunjungi itu jadi wajib, biar tidak planga plongo banget.
Tips lain saat bersafar adalah menjadi lugu lah saat belajar selama safar supaya ilmu pengetahuan mengalir ke dalam diri kita. Lugu adalah menerima hal hal yang disajikan dengan kepolosan dan tanpa pretensi apa apa. Kadang bepergian ke pedalaman atau ke negara lain ada perbedaan perbedaan mendasar dalam cara bersikap dan menjalani kehidupan, terima tanpa pretensi, tanpa menghakimi adalah sikap terbaik.
Atau kadang kita dengan pengetahuan yang sudah ada, modal google jadi tergelitik ingin bertanya yang sifatnya menguji/mengetest guide atau yang memberi penjelasan.
Biar bepergian tidak setres, pusing dengan banyak pikiran yang ingin diuji maka bepergian dengan cara anak anak bermain yang sepertinya lebih menyenangkan untuk dilakukan. Menikmati setiap hal dengan tanpa harus menilai, menjadi diri yang penuh penerimaan.
Karena petualangan bermakna rasanya sudah harus menjadi tagline dalam setiap bepergian maka ketika sebuah ebrosur dari Wesgo lewat di depan mata saat scrolling HP menjadi sangat menarik (padahal saat itu sudah merencanakan pergi kembali ke Iran bersama seorang tokoh Islam yang menarik juga).
Judul Perjalanan menapaki jejak kaum sufi di Uzbekistan betul betul menjadi magnet sampai kami mengalihkan tujuan perjalanan kali ini.
Semakin menarik karena Wesgo menggandeng Nurulwala dan Pak Haidar Bagir serta Mas Agustinus Wibowo (penulis terkenal travel blog dan buku Titik Nol) akan menjadi travel buddies yang akan bercerita banyak mengenai kesejarahan dan aspek sufistik.
Wuih..kesempatan menarik, menyiapkan wadah kosong untuk menyerap sebanyak banyaknya konsep sufistik 'Compassionate' nya Pak Haidar yang selama ini hanya bisa diserap melalui yotube saja .
![]() |
| Para peserta trip |
Kami berkenalan satu sama lain saat menunggu flight ke Uzbekistan di ruang tunggu. Senang sekali berkenalan dengan 13 orang peserta lainnya yang rata rata sudah berumur 'senior'. Kayaknya kami deh yang paling muda selain mas Agustinus Wibowo serta Mas Aziz pimpinan Nurulwala yang ikut dalam perjalanan.
Saat itu dijelaskan juga kita akan belajar apa saja nanti di 4 kota yang akan dikunjungi (Tashkent-Termez-Samarkaz-Bukhara). Termiz ini istimewa karena biasanya trip yang dilakukan biro travel tidak mendatangi kota ini.
Kota kecil di perbatasan Afghanistan ini meskipun minim fasilitas namun akan sarat makna terutama jejak sufistik dan bahkan bisa melihat tanah Afghanistan dari perbatasan
Kami semakin 'exciting' mendengar bahwa akan berkunjung ke Makam Al hakim At Tirmizi (Ibn Arabi belajar soal perwalian. kewilayahan kepadanya). Akan berkunjung juga ke komunitas Naqsabandiyah bahkan ke makam Imam yang sewaktu kecil anak susunya Siti Fatimah, keponakan Imam Ali yang dikirim ke Uzbekistan untuk berdakwah.
Hari pertama perjalanan menempuh jarak 7963 KM dari Jakarta menuju Tashkent (ibukota Uzbekistan) tempat pertama yang akan dikunjungi. Perjalanan 8 jam di pesawat diakhiri dengan menemukan pemandangan super indah pegunungan dengan puncak puncak es bersinar diterpa matahari sore di perbatasan Afghanistan-Tazikistan dan Uzbekistan sesaat sebelum mendarat. Mendarat saat matahari mulai terbenam, indah sekali pemandangan di airport saat sore hari.
Mata uang Uzbekistan terhadap USD kurang lebih 12500 Som (lebih kuat som nih daripada IDR). Ternyata orang Uzbekistan lama (para orangtua) sangat takut menyimpan uang di Bank karena saat Uzbekistan memisahkan diri dari Uni Sovyet dan terjadi pergantian mata uang, uang yang mereka simpan menjadi tidak bernilai. Trauma sampai saat ini akhirnya para orangtua lebih suka menyimpan uang USD di rumah.
Beberapa kata diajarkan juga saat makan malam supaya lebih mudah berinteraksi dengan orang Uzbekistan, misalnya Terima kasih (Rahmat), Terima kasih banyak (Katta rahmat), Apa kabar (Yakse missis), Toilet (Hojat Honna) dan beberapa kata yang bahaya untuk diucapkan karena artinya jauh berbeda seperti cocok (Kemaluan anak laki laki), Kotak (kemaluan laki laki), siska (puting wanita).. Alhamdulilah tidak ada bu Siska di rombongan kali ini. Dan kami masih belum berhasil menemukan bahasa Uzbekistan untuk es batu hihihi...
SEKILAS TENTANG METODA KHALWAT TARIKAT NAQSYBANDIYAH
Salah satu praktik penting dalam tasawuf adalah khalwat (makna literal: pengosongan, yakni pengosongan hati, dari yang selain Allah). Yaitu menyendirinya seseorang dari keramaian dan hiruk pikuk dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berdzikir dan bertafakkur. Praktik ini hampir terjadi di semua aliran tarekat.
Menurut tarekat Naqsabandiyah, tradisi khalwat fisik - yang sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai 'uzlah (pengasingan diri dari kehidupan sosial) - ini bisa menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk sosial, melupakan hak atas diri sendiri, hak orang lain atas dirinya, disamping juga berpotensi menimbulkan sifat takabbur karena merasa diri lebih baik dari orang lain.
Naqsabandiyah memiliki konsep menarik tentang khalwat, yaitu Khalwat Dar Anjuman, yang merupakan salah satu ajaran dalam tarekat ini.
Khalwat Dar Anjuman atau khalwat di tengah keramaian menghendaki seorang manusia beraktivitas seperti biasa layaknya manusia pada umumnya di dunia, namun hatinya tetap tersambung dan mengingat Allah SWT dan terkosongkan dari obsesi duniawi
Singkatnya, prinsip khalwat ini adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Bahauddin an-Naqsabandi, “Seorang hamba secara lahir bersama makhluk namun secara batin bersama al-Haqq.”
Para tokoh Naqsabandiyah berpendapat bahwa khalwat yang benar adalah khalwat di tengah keramaian. Pandangan mereka berlandaskan firman Allah SWT dalam surat an-Nur ayat 37, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”
Dengan demikian, praktik khalwat memungkinkan dilakukan oleh siapapun, apapun latar belakangnya dan tanpa meninggalkan kehidupan duniawi. Bahkan, kehidupan dan aktivitas duniawi bisa membawa pelakunya pada kenaikan tingkat spiritual yang lebih tinggi setiap saat.
Namun demikian, bukan berarti tarekat Naqsabandiyah melarang seluruh praktik khalwat fisik sebagaimana tarekat lainnya. Menurutnya, khalwat fisik sangat bisa dilakukan secara individu dengan tetap memerhatikan hak-hak tubuh, seperti makan, minum, bersosial, olahraga, dan lain-lain.
Khalwat fisik yang diperbolehkan menurut Naqsabandiyah adalah seperti bermunajat sepertiga malam dengan shalat tahajjud sebagaimana disyariatkan dalam Al-Quran.
====
Rasa rasanya ajarannya sama dengan yang kami terima selama ini,berlatih melepaskan diri dari kemelekatan yang bukan berarti meninggalkan dunia, serta belajar 'mati sebelum mati'.
bersambung





Comments
Post a Comment