Menapaki Jejak Kaum Sufi - Uzbekistan (2)


Madrasah Khast Imam


Cuaca di Tashkent pagi ini cukup segar meski tidak membuat saya jadi ingin olahraga pagi. Penerbangan 8 jam lumayan membuat pegal juga sehingga menulis menjadi pilihan utama dibanding ngacir pagi untuk olahraga. 

Kami menginap di sebuah hotel yang baru dibangun dengan arsitektural klasik bernama Daniel Hill Hotel Dengan rate yang katanya sekitar 1 Jutaan per kamar, cukup murah untuk hotel dengan kamar berukuran besar (plus 2 kasur ukuran King Size) plus sarapan yang bagi orang Indonesia termasuk sangat lengkap dipenuhi oleh buah buahan segar, susu, keju dan aneka makanan manis yang sekuat tenaga dilewatkan :D

selama sehari penuh di Tashkent kami akan berkunjung ke Khast Imam Complex, makan siang di restaurant plov terbesar di dunia (dengan 3 ton beras setiap hari dimasak disana untuk para tamu dan sepanjang sore berkunjung ke tokoh Sufistik setempat dan bertolak ke Termez menggunakan pesawat kecil dengan pemandangan yang wuih...

Tawaran sarapan pagi bersama pak Haidar Bagir sambil berbincang tipis tipis mengenai Hakim Al Tirmidzi dan perbincangan mengenai fenomena dalam ilmu sufistik, sangat menarik dan tak boleh dilewatkan. Sambil menyesap teh hijau dan ngemil buanyak banget buah buahan serta aneka rupa kacang kacangan, petualangan hari itu dimulai..

 Uzbekistan memiliki banyak sufi yang ahli di bidang keislaman selama dinasti Abasiyah. Salah satu yang akan dikunjungi di kota Termez adalah Makam Hakim Al Tirmizi dan Imam Al Tirmizi . 

Saya pikir itu satu orang yang sama, yang kita kenal sebagai perawi hadist. Ternyata itu dua orang yang berbeda, saudara saudara. 

Yang satu selama ini kita kenal sebagai seorang perawi hadist terkenal dan yang satu lagi adalah ulama tasawuf generasi perintis dan termasuk ulama yang menguasai beragam keilmuan seperti tafsir, hadits, tasawuf, fikih dan kalam. Keduanya sama sama hidup di masa yang hampir sama di tahun 9 M. 

Bicara soal Hakim Al Tirmizi ini istimewa karena dia memiliki gagasan tentang kewalian/orang suci/pemilik wilayah (walayah). 

Hakim memiliki ketajaman berfikir seorang filsuf, ketaatan seorang ahli ibadah, kesederhanaan seorang zahid dan kekayaan rohani seorang sufi. Karyanya  Kitab Khatm Al Awliya menjadi tonggak awal konsep kewalian dalam ilmu sufistik yang cukup kontroversial. Ada dua konsep wali (wali adalah orang yang dekat kepada Allah dan menjadi pemimpin spiritual)

kewalian menurut al-Hakim al-Tirmidzi adalah kedekatan hubungan dengan Allah dan merasakan kehadiran-Nya .Maka, wali Allah menurut beliau adalah seseorang yang dekat kepada Allah dalam petunjuk, pertolongan, jiwanya, dan mengangkat-Nya di tempat yang tinggi dengan penuh kesungguhan, kemudian Allah memperkokoh kesungguhannya sehingga ketika seluruh upaya tercurahkan, Allah posisikan dirinya di hadapan-Nya dengan penuh tunduk, patuh, dan berserah diri.

Terdapat dua jalan kewalian, yang pertama didapatkan dari kecintaan kepada Allah dengan memenuhi hak hak Allah (beribadah dan upaya mendekat kepada Nya) dan yang kedua adalah seseorang yang Allah cintai sehingga Dia menarik orang tersebut dan mengangkat derajatnya.

Ajaran Hakim Al Tirmizi banyak diikuti oleh Ibn Arabi, salah satunya mengenai konsep kewalian ini. Hakim Al Tirmizi menjelaskan bahwa wali adalah orang yang dekat kepada Allah dan memiliki delegasi dari Allah untuk mengurus semesta (ada 40 wali). 

Menariknya Konsep ini juga ditemukan dalam filsafat jawa dimana dipercayai bahwa alam semesta bergerak dibantu juga oleh para wali, terlihat dari nama nama jawa yang diterapkan seperti Hamengkubuwono, Pakubowono dll. 

Keteraturan alam ini karena Allah memberi delegasi pada mahluk Nya yang istimewa. Konsep kewalian ini tidak sama persis, bahkan Ibn Arabi memiliki konsep wali kutub saat tidak akan ada wali pengganti di dunia. Namun bagaimanapun dunia tidak pernah kosong dari para wali. 

Sayangnya bukti bukti kehadiran wali di Indonesia masih sangat minim. Fenomena wali songo masih dalam perdebatan, ada yang menyatakan bukan 9 wali (namun disebut wali yang mulia)  angka 9 dipilih karena angka yang baik dalam filosofi jawa. Kayaknya seru juga nih jelajah wali songo untuk menyerap ajaran ajarannya. 

Hal lain yang menarik dalam pemikiran Hakim Al Tirmidzi adalah mengenai cara periwayatan hadits. Biasanya periwayatan hadist dianggap kuat atau lemah dari rantai periwayatannya, ada kalanya sebuah hadist meskipun rantai periwayatannya kuat namun isinya bertentangan dengan Al Quran maka hadist itu disebut lemah. Sementara meskipun ada sebuah hadits yang dianggap rantai periwayatannya lemah, namun isinya sangat sejalan dengan Al Quran maka seharusnya itu dianggap hadits yang kuat. 

Ini yang menyebabkan kaum Sufi sering kali dianggap mengutip hadist yang lemah, sementara Hakim Al Tirmizi menyebutkan bahwa ada satu cara periwayatan yang memperkuat yaitu cara batin. Contohnya sebuah hadist terkenal di kaum sufi 'Aku adalah khazanah yang tersembunyi (kanzun Makhfiy). 

'Aku rindu untuk dikenal, karena itu Aku ciptakan mahluk supaya Aku diketahui'

Ini adalah basis dari ajaran tasawuf dengan mazhab cinta karena tanpa kecintaan Allah kepada mahluknya tidak akan ada alam yang tercipta. Hadist ini disebut lemah dari rantai periwayatannya, namun dalam Al Quran disebutkan bahwa hubungan Allah dan ciptaannya adalah hubungan cinta. Orang yang beriman itu dalam dirinya bukan semata intens dalam beribadah, namun dipenuhi rasa cinta kepada Tuhannya. 

Al Hakim disebut sebagai hakim orang bijak yang mengajarkan amal tasawuf yang dikutip oleh al Ghazali yang membagi entitas manusia dalam kerangka hawa nafsu, Aql dan hati. 

Aql adalah pendukung kuatnya daya hati dan hawa nafsu adalah tempat dimana syetan membisikkan berbagai godaan untuk menjauh dari Nya. Cahaya Allah diterima oleh hati dan memancar ke dalam shudr manusia . Aql dapat membantu hati dalam melindungi shudr dari syetan.

Di masa kehidupan Hakim Al Tirmizi, budhisme masih sangat kuat bahkan dalam salah satu kitabnya menceritakan hubungan yang kuat antara para sufi dengan monk.  Menarik , karena bukti berupa kuil budha lama bisa ditemukan di bukit Kara Tepa di Termez, tak sabar menunggu hari esok di Termez meskipun katanya cuaca disana lumayan cukup panas.

Sepanjang perjalanan hari kedua itu menarik sekali, karena kami mendapat banyak sekali cerita perkembangan peradaban di Asia Tengah yang spesifik dengan kondisi kontur daerah padang rumput terluas di dunia (nanti ya diceritakan di artikel mendatang, karena ceritanya akan panjang..) 

Bangunan lama khast imam

Minuman susu segar dengan rempah 


Harus pakai keresek untuk masuk museum Quran


Makam

Minuman para sufi, juice pomme



jajanan anak SD 

Kunjungan ke Khast Imam Complex (penduduk menyebutnya kompleks imam yang suci) dimana dalam satu kompleks terdapat makam Abu Bakar Qofl, madrasah Al Bukhori (sebutan madrasah ini untuk sekolah tinggi) , mesjid dan museum dimana tersimpan Al quran tertua dari masa pemerintahan Ustman bin Affan. 

Konon kabarnya Al Quran ini dibawa oleh Amir timur (pahlawan yang menguasai 27 negara di Abad 14) dimana bila ia datang ke sebuah negara untuk menduduki, ia membawa satu barang berharga. Ia membawa Al quran ini dari Baghdad ke Samarkan dan saat pendudukan Uni Sovyet di Samarkand Al Quran ini sempat dibawa ke St Petersburg dan saat kemerdekaan para mufti meminta dikembalikan ke Taskent. Ada versi lain dari cerita yang berkembang, Al Quran ini adalah al Quran yang dibaca Bilal bin Rabah yang wafat dibunuh saat membacanya. Menariknya perkembangan keislaman meskipun sempat ditekan di masa pendudukan Uni Sovyet sampai tahun 1991 akhirnya semakin menggeliat. Pak Komarudin Hidayat (mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah) yang ikut bergabung dalam rombongan kali ini menyebutkan muslim di Uzbekistan ini mirip rumput teki (rumput liar yang sulit diberantas), meskipun dipotong berkali kali ia akan kembali muncul dari dalam tanah meskipun tandus. 

Suhu siang saat kami tengah hari berkeliling di Khast Imam Complex berkisar di 42 derajat, namun karena udara yang kering tidak membuat gerah yang luar biasa selain angin yang cukup besar.  Siang hari itu diakhiri dengan makan Plov (makanan khas Uzbekistan) berupa nasi yang dicampur kacang kacangan, kisimis, potongan daging (boleh pilih sapi, domba atau kuda) di restaurant Plov terbesar di dunia namanya besh Kozon.

Tempatnya menarik karena kita bisa melewati dapur tempat para pria memasak nasi dalam wajan wajan super besar, dipenuhi potongan daging dan sudut tempat membuat roti yang menyeruak harum roti yang sedang dibakar. 








Plov adalah nasi yang biasanya dimasak setiap hari kamis dan disebut makanan hari raya dalam kebudayaan Uzbekistan. Berawal dari kebiasaan sebelum abad ke 7 di masa zoroaster menjadi agama utama yang berpendapat bahwa hari kamis adalah hari beribadah. 

Restaurant besar yang sepertinya bisa menampung lebih dari 300 orang dalam tempat indoor dan outdoor ini menyajikan menu utama nasi Plov ini dan setiap hari selalu dikunjungi oleh ratusan turis dan orang lokal 

Hal menarik lainnya dalam trip ini, adalah destinasi terakhir hari ini mengunjungi rumah seorang sufi bernama Habibullah Sholih. 







Ini beneran berkunjung ke rumahnya, nebeng sholat, disuguhi banyak makanan plus diceritai dan diajarkan cara membuat kaligrafi di papan tulis yang masih pakai kapur tulis. Rumahnya dipenuhi hiasan dari kulit dengan gambar motif motif yang beliau ceritakan mengenai tata cara kehidupan dalam Islam. Diselingi melihat Al Quran raksasa yang beliau tulis sendiri diatas lembaran kulit plus sempat memetik whiteberry di halaman rumahnya. Ah sampe pening kepala saya 'dibanjiri' pengetahuan-pengetahuan.

Kesederhanaan seorang sufi terpancar dari wajahnya yang berseri seri dan sikapnya yang helpfull.  Betul juga kalau orang beriman itu terpancar dari prilakunya. 

Beliau dengan bergegas memegang selang untuk menyiram tanaman dan mempersilakan kami mencuci tangan setelah memetik berries yang manis dan lengket di tangan. 

Beliau menjelaskan bahwa Islam bukan hanya soal beribadah menyembah Allah dengan sholat dan ritual lain yang dilakukan secara intens, namun menyimpan Allah dalam hati, tersambung kepada Nya dalam setiap detik menjadi sangat penting. 

Senja menjelang, diakhiri dengan menuju Bandara untuk terbang ke Termez menggunakan pesawat kecil yang terbang rendah, terpampang pegunungan es Tazikistan di perjalanan selama 1.5 jam dan di sisi lain padang pasir dan rumput luas dengan matahari terbenam perlahan.








Alhamdulilah, harus banyak bersyukur atas rejeki yang didapatkan, rejeki ilmu, bertemu orang orang baik dan dapat menikmati petualangan dengan cara berbeda...

Bersambung lagi


Comments

Popular posts from this blog

Kembali ke Rumah Mu Dengan Penuh Rasa

Mencinta itu Melepaskan...

Masura Bagatta, Mentawai..