Menapaki jejak Kaum Sufi -Uzbekistan (3)




Beberapa catatan mengenai interaksi antar agama yang menarik di Asia Tengah, informasi 'daging' yang dijelaskan oleh mas Agustinus Wibowo dengan keterampilan bercerita yang luar biasa menarik sehingga kami merasa tidak bosan selama perjalanan - Pak Haidar Bagir menyebutnya sebagai anak muda penghayat ajaran Budhisme asal Lumajang dengan keterampilan menulis yang indah.  Perjalanan bertambah lengkap dengan ketajaman ilmu mas Aziz dari Nuralwala yang dengan suaranya yang rendah dan bersahaja menjelaskan banyak data mengenai seluk beluk kesejarahan.

Saya yang biasanya kurang bersemangat terhadap hal-hal rumit yang mampir di sel abu abu ends up dengan ngantuk, ketiduran atau blocking atas ketidakfahaman menjadi 'terbangun'. exciting, penuh rasa penasaran dan tidak sabar menunggu limpahan ilmu. 

Mungkin orang dengan type kinestetik ini lebih cocok menyerap ilmu dan informasi sambil bergerak atau langsung berada di dekat evidence dibandingkan duduk diam mendengar hal yang sulit ditangkap panca indra yang terbatas.

'Kelas' yang disajikan adalah ngobrol santai saat sarapan, jawaban atas kepenasaran di sela sela perjalanan atau saat berkunjung ke sebuah tempat, dan waktu yang tak terasa di dalam bus selama berjam jam menuju kota lain sambil memandang padang rumput dan pegunungan pasir tandus dari balik jendela bus. 

Asia Tengah yang terdiri atas 5 negara pecahan Uni Sovyet (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan) yang merdeka di tahun 1991. Saat ini menjadi sebuah destinasi wisata baru yang mulai dikunjungi oleh banyak sekali turis dari Indonesia. Secara geografis  daratan Asia Tengah di warnai oleh tanah dataran tinggi dan pegunungan, gurun yang luas, dan tanah datar berupa padang rumput. Sebagian besar tanah di Asia Tengah sangat kering dan kasar, sehingga sulit untuk dijadikan sawah. Konon Stepa (padang rumput) Eurasia adalah stepa luas yang membentang dari Rumania dan melalui Asia Tengah sampai Mancuria 

Tanpa banyak sumber daya makanan dan air menjadikan kesulitan bagi manusia di masa lampau untuk melakukan perjalanan melintasi Asia Tengah. Setelah manusia pertama kali menjinakkan kuda (6000 tahun yang lalu) maka dimulailah perjalanan melintasi gurun dan padang rumput . Kuda menjadi penanda dan peran yang penting dalam membentuk peradaban manusia.  Kuda yang dijinakkan pada akhirnya mempunyai peran penting dalam gaya hidup beternak (sapi, kuda dan domba) sangat cocok dikembangkan di daerah dengan padang rumput yang luas. Dan akhirnya ini membentuk kehidupan nomaden para penggembala, karena ternak tidak bisa makan di satu tempat terus menerus. Kuda berperan penting dalam mengawali sejarah nomaden dalam penggembalaan di padang rumput. 

Para kaum nomaden ini menjadi pelaku utama perjalanan jalur sutra dari Timur ke Barat dan banyak kota di Uzbekistan menjadi kota yang dilalui dalam perjalanan terdahsyat sepanjang masa. 

Menarik membahas soal kuda yang berperan penting dalam peradaban. Dulu memang kuda belum bisa dijinakkan sehingga tidak pernah terpikir untuk memanfaatkan kuda dalam membantu keinginan menjelajah yang semakin kuat pada manusia. 

 Bicara soal kuda yang dijinakkan sehingga memberi banyak bantuan pada manusia kok saya jadi teringat materi yang sering sekali dibahas dalam kajian yaitu tentang jasad dan ruh. Tentang bagaimana jasad yang terbuat dari tanah ini secara natural selalu menginginkan hal hal yang berasal dari 'tanah', suka memamah biak dalam mengembangkan jasadnya. Tentang ruh yang berasal dari langit yang selalu menginginkan membawa pada kebaikan. 

Ruh yang bersih, yang selalu menginginkan pada kebaikan ditiupkan Allah ke dalam diri setiap calon manusia saat menapaki 120 hari di dalam kandungan (yang kita lupa akan perjanjian dan percakapan saat itu bersama Allah). Saat terdahsyat kita berhadapan dengan Allah sebagai 'I and You' . Saat Allah mengucapkan Alastu Birabbikum (Adakah Aku sebagai Tuhan mu?) dan kita menjawab Qalu balaa syahidna (ya, kami bersaksi). 

Perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan kemudian mengenal kebutuhan yang bersifat fisik, bagaimana kita di didik oleh orangtua dan semesta dunia yang bisa jadi hanya berpusat pada hal fisik, pada pengembangan jasad, pada aspek kuda seorang manusia, pada outer journey (menurut Prof. Komarudin).  

Maka yang terjadi adalah para ibu yang bangga dan merasa tenang saat sang bayi 'sudah mulai bisa makan' yang kadang bila kebablasan akan menghasilkan anak anak dengan obesitas, anak anak dengan sugar rush dan sulit mengendalikan hawa nafsu dan amarah. Berpusat pada pemenuhan raga, akhirnya membawa kita pada kebanggaan akan hal hal yang sifatnya duniawi. Merasa bahagia bukan kepalang saat menjadi cantik dan gagah, tubuh yang kuat dan kekayaan berlimpah dan akhirnya kehidupan dikendalikan hanya untuk pemenuhan hal hal fisik kuda tunggangan kita. 

Lalu di manakah ruh yang berasal dari langit, cahaya yang seharusnya menuntun jalan kita agar selalu menuju kepada Nya?  Ruh ibaratnya adalah penunggang, yang ia belum bisa mengendalikan kuda tunggangannya karena sang kuda terbutakan oleh rumput hijau yang menarik untuk berdiam dan memamah biak memenuhi kebutuhan ragawinya. Urusan ruh ini memang hal yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak teraba oleh panca indra, berbeda dengan sang kuda yang bisa terlihat dan dirasakan. 

Maka seharusnya menjadi pekerjaan besar seorang manusia untuk mengingat kembali saat ia berhadapan dengan Tuhannya dan saling berbicara. Tuhan yang menciptakan kita yang rindu untuk dikenal (Kanzun Mahfiy) dan seharusnya kita hanya menjadi wayang atas kehendak Nya. 

Belajar melakukan Inner Journey (perjalanan ke dalam diri) ini dilakukan dengan dukungan raga kita. Tidak heran Budha Gautama pergi ke hutan menjauh dari dunia untuk menyatu dengan tanaman dan hewan hewan, Musa yang bepergian ke Gurun Sinai dan Muhammad menyepi di Gua Hira untuk melakukan Inner Journey. Maka saat jiwa/ruh  kita dapat mengendalikan sang jasad (kuda), saat itulah penghadapan kita hanya kepada Dia dan perjalanan panjang penjelajahan menuju kepada Nya dimulai seperti laiknya para nomaden mengendalikan kuda liarnya untuk menjelajah dunia menemukan peradaban. 

Termez sebuah kota kecil di selatan Uzbekistan ini konon kabarnya adalah kota terpanas di Uzbekistan dan menjadi kota perbatasan dengan Afganistan.  dengan jarak 683 km dari Tashkent memang harus menjadi bagian dari jelajah meskipun dari namanya Termez berarti panas (thermo/thermos dalam bahasa Yunani) . Dan memang betul juga, 43 derajat di siang hari lumayan cukup terik membakar kulit meskipun udara yang kering membuat kita tidak berkeringat berlebihan. Masih lebih tertahankan bila dibandingkan perjalanan tahun lalu menjelajah 100 km jalan kaki saat bergabung dengan ritual Arbain. 

Beruntung dalam trip kali ini geser tipis tipis ke Termez dengan kekayaan kesejarahannya yang luar biasa. Tempat dimana terdapat tempat disemayamkannya dua tokoh terkenal Imam Al Tirmizi dan Hakim Al Tirmizi serta mengunjungi museum yang di dalamnya terdapat evidence dari kehadiran agama Budha yang dibawa melalui perjalanan jalur sutra di Uzbekistan. 

Budha dengan percampuran china
(Variasi menggunakan keramik)

Budha dalam versi Yunani

Saat Islam masuk ke Uzbekistan 
Simbol simbol dirusak 

Menu khas Uzbek dengan rasa mirip dimsum
yang menjadi bukti akulturasi  

Penggambaran Perjalnan Jalur sutra setelah Islam masuk.
Sangat bernuansa persia


Mengenai ziarah ke makam para orang sholeh ini dalam tasawuf ini bahkan Mula Sadra menulis bahwa ruh asalnya jasmani tetap abadi, bukan seperti dua hal yang terpisah namun menyatu.  Bahkan Fahrur Rozi dan Ibn Sina pun menjelaskan bahwa dalam jasad orang yang meninggal terdapat ruh dan bila secara fisik kita 'mendekat' maka kita akan mendapatkan limpahan spiritual yang kita selama ini menyebutnya sebagai berkah. 

Berkah adalah hal non fisik yang tidak dapat dicerna dengan rumus matematika bahwa ketika satu ditambah satu menjadi dua, berkah bisa meledakkan menjadi 10, 100 atau bahkan ribuan. Dalam tasawuf berkah adalah sesuatu yang melimpah dan memberi dampak kepada banyak orang di sekitar. Keberkahan didapatkan saat ziarah kubur, dekat dengan seorang wali (yang hanya dengan memandang wajahnya pun telah memberikan charging energi yang kuat) . Catatan : dalam tarikat Uwaisiyah dikenal dengan tarikat dengan syech yang tidak pernah dikenal secara fisik. Detailnya bisa dibaca disini ya (Thoriqoh Uwaisiyah - Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (jatman.or.id) 

Maka untuk ngalab berkah lah sehingga perjalanan ini dilakukan sampai ke Termez, kota yang bukan tujuan para wisatawan atau berada dalam itenerary wisata ke Uzbekistan. 

Beruntung kemarin bisa mengunjungi makam dua tokoh terkenal, menjelajah museum Arkeologi Termez melihat bukti bahwa sang Budha hadir di Asia Tengah. Uniknya patung budha yang ditemukan ada yang berbentuk mirip dengan dewa dewa Yunani, tidak heran karena Alexander The Great pernah menjajah Asia Tengah. Budha digambarkan dengan wajah yang sangat eropa dan cara berpakaian jubah yang menjuntai. Ajaran Budha menyebar ke Asia Tengah oleh dinasti Kushan sehingga evidencenya dapat ditemukan di museum ini. Bahkan kompleks Fayaz Tepe di jantung Termez lama memperlihatkan bukti bukti ikonik kehadiran Budha. Sayangnya udara yang panas mengurungkan niat kami menjelajah langsung ke Fayaz Tepe karena perlu segera beranjak menuju makam.





Perjalanan semakin kaya karena kami menjelajah melalui perjalanan darat menikmati pegunungan dan sunset sore diselingi mampir mengisi gas yang seru karena kami jadi sempat mengamati cara mengisi gas yang antriannya lumayan juga (hampir 1 jam kami menunggu di kantin yang ada di stasiun pengisian). Bahkan katanya kalau di musim dingin, antrian bisa sampai 24 jam dan para penumpang harus menginap. 

Ibu ibu lokal di stasiun pengisian gas 


berkesempatan menyentuh makam Imam Al Bukhari


Ada kejutan yang disajikan oleh panitia, ternyata kami mendapat kesempatan untuk memasuki makam Imam Al Bukhari sang maestro hadist nabi yang berada di perbatasan kota Samarkand. Presiden Soekarno pada tahun 1956 berperan sangat besar dalam menemukan pemakaman ini. Jadi konon pimpinan Uni Sovyet pada saat itu menginginkan adanya kerjasama dengan Indonesia. Presiden Soekarno memberi dua syarat, yaitu didirikannya 2 mesjid untuk muslim dan mencari makam Imam Al Bukhari yang katanya berada di daerah jajahan Uni Sovyet saat itu. 
Maka dipenuhilah keingin Presiden Soekarno tersebut, dan PR besar menemukan makam Imam Al Bukhari baru bisa ditemukan 4 bulan kemudian dalam keadaan yang kotor dan tidak terawat. 

Singkat cerita, pemerintah Uni Sovyet mengulur kedatangan Presiden Soekarno dengan memperjalankan ke Samarkand memakai kereta api selama 3 hari. Dan ternyata presiden Soekarno saat itu baru bisa masuk ke makam hampir tengah malam. Beliau berdoa dan menangis sepanjang malam hingga pagi menjelang. 

Sejak saat itu hanya turis dari Indonesia rupanya yang mendapat keistimewaan masuk ke makam Imam Al Bukhari. 

Kami sangat bersemangat  mendapat undangan yang langka tersebut apalagi saat ini kompleks sedang dipugar dan tertutup untuk kunjungan sehingga kami memutuskan mengubah jadwal kunjungan malam itu juga. 

Seharusnya kami sampai di kompleks pemakaman  ini pada pukul 21 malam akhirnya harus delay sampai pukul 23.40 menjelang tengah malam karena kejadian mogoknya bus yang kami tumpangi dengan cerita macam Lara Croft mencari jejak makam tua dalam Tomb Raiders karena kami berpindah moda kendaraan ke mobil mobil jadul macam Fiat dan colt tahun lawas mengebut di jalanan antara Termez dan Samarkand
Semesta mendukung setiap cerita yang dijalani, bahkan waktu yang sama pun diperjalankan seperti presiden pertama RI saat berkunjung di tahun 1956, maka doa bagi negeri salah satu doa yang kami panjatkan... 

Alhamdulilah...


 

Comments

Popular posts from this blog

Kembali ke Rumah Mu Dengan Penuh Rasa

Mencinta itu Melepaskan...

Masura Bagatta, Mentawai..