WesGo, ya sudah pergi saja... Menapaki jejak kaum Sufi - Uzbekistan (4)



Saat poster ini  lewat di thread Instagram dan membaca judulnya 'Menapaki Jejak kaum Sufi di Uzbekistan' bersama Pak Haidar Bagir (seorang tokoh yang terkenal dengan 'Tasawuf Cinta' nya dan Mas Agustinus Wibowo (penulis dan travel blogger terkenal) saya langsung tergelitik mengalihkan tujuan.
 
Tadinya kami akan ikut trip dengan travel lain ke Iran yang isinya selain ziarah juga akan banyak bertaburan ilmu berkah dari seorang tokoh keislaman di Indonesia yang konon katanya Gus Mus pun akan ikut dalam rombongan.
Bismillah, kami mengalihkan tujuan, mungkin ini memang petunjuknya begitu, sehingga meskipun biayanya lebih tinggi kami memutuskan berpindah tujuan. selain karena sudah pernah ke Iran, feeling saya yang ini bakal lebih seru. 

Saat membaca itenerary yang dberikan oleh Wesgo (travel yang bekerjasama dengan Nuralwala untuk kegiatan ini)  kami tak berpikir panjang, cek jadwal, aman, dan Bismillah kami pun dengan randomnya mendaftar. 

Wes go aja. (ternyata nama Wesgo bukan 'pergi ke barat' tapi wes (bahasa jawa tengah dari 'ya udah') 'go' pergi saja. 

Ndilalah berjodoh, kami yang kadang suka 'random' kata anak tertua kami karena suka ujug-ujug punya gagasan pergi yang tiba-tiba dan pergi ke lokasi yang tak biasa, sangat cocok dengan kata Wesgo. 

Biasanya kalau sedang diskusi dengan suami sering sekali terlontar kalimat 'ya udah,pergi aja'. Tak jarang diskusi malam ini, besok pagi buta sudah packing dan pergi ke suatu tempat.
 
Sebenarnya kami kurang menyukai travelling menggunakan sistem open trip karena pengalaman beberapa kali travelling seperti itu di Indonesia atau pergi bersama grup grup umroh atau ziarah, sering merasa kurang nyaman misalnya keseret seret jadwal itenerary yang kadang kurang customized, sulit menemukan diri sendiri karena harus menyesuaikan dengan 'gaya bermain' grup. 
Nah baru sekarang menemukan travel yang sangat memahami kliennya. 



Exciting, saat bertemu di bandara pertama kali sebelum pergi, ternyata dalam rombongan selain Pak Haidar Bagir dan istri, ada juga Pak Komaruddin Hidayat,  mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga sering menulis beberapa kolom di media. Latar belakang keilmuan beliau yang lulusan Universitas di Ankara dengan bidang Filsafat Barat plus menjalani masa kecil di dunia pesantren membuat saya penasaran akan seperti apa perjalanan selama 7 hari ke depan. 

Ternyata ikut bergabung juga dalam rombongan Direktur Nuralwala (pusat kajian Ahlak dan Tasawuf) Mas Azam Bahtiar, dan Pak Sayed Hyder, Direktur Pendidikan Lazuardi. Batin saya, ini sih rombongan yang bakal mengisi pemikiran-pemikiran tentang tasawuf dan menjawab banyak hal tentang tarekat yang selama ini ada di benak saya .

Murabi saya berulang kali memberi pesan, saatnya bepergian itu harus memberi makna, liburan tidak hanya berlibur random menikmati keindahan alam atau kota, harus ada yang kami dapatkan dari berbagai perjalanan. 

Bapak grup 6 penyuka ziarah dan mencari ilmu


Dan perjalanan ini rasanya menjadi cocok melihat ada beberapa peserta lain dari dari tarikat Naqsabandiyah, ada juga sekelompok bapak bapak pensiunan direktur berbagai perusahaan dan BUMN penggemar mencari ilmu dan ziarah yang meskipun sudah berusia lansia tapi masih sangat bersemangat dengan cerita pencarian diri yang luar biasa dari masing-masing orang. 

berfoto di lokasi cover buku
Saya semakin merasa cocok karena saat di ruang tunggu saling berkenalan pun sudah mendapat percikan hikmah yang disampaikan dengan cara berbincang santai dipimpin pak Haidar dan ditimpali oleh Pak Komar. 

Buddy Travel dari Wesgo yang tak tanggung tanggung melibatkan mas Agustinus Wibowo seorang penulis buku yang sudah malang melintang di dunia travelling di Asia  Tengah dan sangat memahami Uzbekistan mulai mengusik rasa ingin tahu dengan menjelaskan mengenai 4 kota yang akan dikunjungi.

Asumsi saya mengenai open trip bersama rombongan mulai berubah saat menjalani hari-hari bersama. Setiap hari tema tasawuf dan juga hal hal yang berkenaan dengan latar belakang sejarah yang melatar belakangi Uzbekistan kaya akan potensi spiritual (dari mulai zoroaster, Budha sampai ke era agama Islam) diceritakan dengan sangat apik laiknya sebuah orkestra saat dimainkan. 

Pak Haidar Bagir, Mas Azam, Pak Zayd dan Pak Komarudin memantik pemikiran kami sehingga semua pertanyaan mengenai sufistik tak habis habisnya dibahas baik di meja sarapan, saat briefing di sela waktu. Bahkan saat santai ngopi di beberapa spot kece sambil memandang wanita Uzbekistan yang cantik cantik lalu lalang pun para peserta trip dengan latar belakang masing-masing yang sangat kaya akan pengalaman membagikan pengalaman hidupnya.. 

Terkagum-kagum kepada pengetahuan Mas Agustinus dengan latar belakang pendidikan di Beijing plus pengalamannya  travelling di Asia sejak 2005 membuat perjalanan semakin kaya, karena kami diajak berpetualang ke masa lampau dengan berbagai cerita sejarah Asia Tengah. 

Semakin bertambah pengetahuan karena Guide lokal yang pandai berbahasa Indonesia, Sanjar dan Zahir dengan apiknya meramu cerita sejarah dari lokasi lokasi yang dikunjungi dan buku saku yang diberikan sangat bermanfaat selain untuk memahami lokasi kunjungan juga menjadi tempat mencatat pengalaman harian. 

Meskipun ini adalah kegiatan berziarah ke berbagai makam para tokoh sufi di Uzbekistan namun Wesgo dengan apik membuat itenerary yang juga memenuhi hasrat rekreasi seperti menghabiskan waktu yang cukup banyak di 'old city heritage' di Bukhara yang menjadi salah satu lokasi warisan dunia UNESCO, pergi ke pasar di Samarkand yang penuh dengan produk untuk oleh oleh serta berbagai jenis kacang kacangan yang melambai lambai minta dibawa pulang šŸ˜‚* dan saya kalap memenuhi bagasi dengan 15Kg makanan. 


Kejutan-kejutan kecil yang istimewa seperti berkunjung ke rumah sufi, terkaget-kaget dengan tarian perkawinan yang tiba tiba disajikan saat dinner di ruang privat sebuah rumah sampai ditunjukkan lokasi lokasi tersembunyi seperti tempat ngopi di lantai 2 salah satu bangunan madrasah bersejarah di Registand Square Samarkand melengkapi perjalanan kami. 



coffee shop tersembunyi di lt 2 madrasah

Penari Uzbekistan 

Perjalanan tidak selalu di setting dengan serius, jangan bayangkan ziarah dengan berdoa terus menerus atau diskusi tak kenal lelah. Saat berkunjung ke  makam makam memang ada ritual yang kami lakukan sesuai saran dari Pak Haidar seperti sebelum memasuki site 'menyambungkan rasa' dengan tokoh yang dimakamkan, kemudian berdoa sejenak saat berada di dalam ruangan untuk 'ngalab berkah' dan menangkap vibrasi dari orang orang sholeh tersebut. 

Di luar site makam -yang kami memperlakukannya dengan khidmat dan penuh adab- perjalanan dilakukan dengan santai dan penuh hiburan salah satunya dari  Mas Kasan (katanya kalau malam berubah jadi Hasanah) yang hobi berjoged dan hafal berbagai lagu india. 

Sebagian besar dari peserta travel adalah bapak ibu lansia (sepertinya yang belum lansia hanya kami berdua saja) dan kerennya Wesgo, bisa melayani bapak ibu ini dengan amat sabar dan penuh perhatian laiknya anak kepada orangtuanya. Saya terkagum-kagum melihat mbak Lia yang dengan sabar menjelaskan berbagai hal, menuntun bapak bapak yang kelelahan dan mengingatkan benda benda yang tertinggal. 

Bayangkan kami ini ber 13 orang, dilayani oleh 5 buddies travel (diluar tim Nuralwala) yang dengan sigap melayani kami semua seperti handling koper (membawakan sampai ke pintu kamar), memberi air minum sepanjang waktu, bahkan untuk tidak membebani peserta dengan luggage saat pindah kota dengan kereta cepat (afrosiyob) dari Samarkand ke Bukhara dan dari Bukhara kembali ke Tashkent seluruh luggage dibawa terpisah memakai bus.

Bertambah istimewa karena dengan apik teman teman Wesgo memilih hotel terbaik dan lokasi lokasi untuk makan dengan variasi menu khas Uzbekistan dari mulai membandingkan Plov di beberapa kota sampai menu sachlic dengan jumlah yang berlimpah ruah plus set menu lengkap dari mulai salad, sup sampai pada dessert es krim.
 

Roasted chicken ter enak
sepanjang perjalanan (Bukhara)



set menu pembuka 



Plov di Samarkand 

Selalu ada sup nasi sebagai pembuka 

Nasi Plov di Bukara (pake bawang putih)

Wesgo sangat memahami kondisi para peserta dan tidak kaku dengan itenerary yang telah disusun, mereka menawarkan perubahan itenerary saat peserta terlihat membutuhkan istirahat lebih panjang. Mereka dengan sigap mudah ber kompromi dengan usul usul peserta seperti saat peserta menginginkan ada kelas pagi, dengan sigap mereka mempersiapkan ruang kelas di hotel untuk diskusi. Rasanya kalau di Indonesia tidak semudah itu mendapatkan ruang kelas secara mendadak, tumbs up untuk Wesgo !  

Kejadian diluar dugaan yang terjadi saat bus yang kami tumpangi di perjalanan dari Tashken ke Samarkand menuju Makam Imam Bukhari mengalami kerusakan saat malam tiba, dengan sigap tim Wesgo mencarikan kendaraan alternatif berupa mobil mobil kecil macam mobil jaman dulu (fiat, colt) dan 'menyelamatkan' kami yang mulai kelaparan di restaurant terdekat meskipun sudah dibooking restaurant lain. Dan bus pengganti dengan cepat merapat ke lokasi tempat kami makan.

Seorang Mas Kasan, travel buddies yang membantu keperluan kami sangat menghibur dengan canda tawa dan prilaku lucunya yang ia tidak segan-segan melantunkan lagu lagu india plus goyang joged (entah ala Uzbek atau ala dangdut)šŸ˜‚

Sebelum pergi, ada satu kali zoom untuk penjelasan persiapan kepada para peserta. Bahkan diberikan tips tips penting sebelum travelling. Ini beberapa hal yang perlu disiapkan jika ingin travelling ke Uzbekistan.
 
Pertama, cek dahulu sebelum pergi dan persiapan outfit tentang cuaca di tanggal kepergian kita. Uzbekistan itu punya 4 musim yang ekstrim. Musim semi dan musim gugur adalah waktu waktu yang cocok untuk berkunjung ke Uzbekistan (April-Juni dan September-Oktober) 

Saat kami  pergi kali ini di awal Juni rupanya ini adalah awal menuju musim panas sehingga ada beberapa saat yang lumayan menyengat (terutama di Termez), maka bawalah banyak banyak sunblock untuk melindung kulit, topi lebar, kacamata hitam dan wow..Wesgo memberi payung sebagai salah satu paket dari goodie bag yang mereka berikan. 

Bawalah pakaian dengan bahan yang tipis dan enak dipakai (tidak disarankan memakai jeans) dan tidak perlu terlalu banyak juga karena meskipun panas namun karena termasuk daerah dengan kelembaban yang rendah sehingga dengan cepat keringat kita menguap.


Tas backpack dan tas kain goodie bag akan berguna untuk perjalanan panjang dan perjalanan harian. Kalau suka belanja, bawa juga duffel bag atau travel bag multi fungsi yang dapat dilipat kecil sehingga kalau tidak dipakai bisa diselipkan di koper besar. 


Kedua, Uzbekistan itu kota yang sangat bersih, hampir tidak menemukan sampah bahkan di pasar sekalipun. Namun jangan heran ya..negara yang baru melepaskan diri dari Uni Sovyet pada tahun 1991 ini dalam urusan toilet di lokasi umum masih lasut (loose) terutama untuk orang Indonesia yang masih perlu air untuk membersihkan diri saat di toilet. Namun jangan khawatir di hotel dan beberapa restaurant sudah lebih 'manusiawi'. 

Mungkin karena dulu saat dijajah Uni Sovyet dengan aliran komunis sama rata sama rasa'' sehingga sangat mementingan kebersihan publik dan kurang mementingkan aspek 'ritual pribadi' -salah satunya urusan WC ini (menurut analisa prof Komar). 

Di beberapa toilet umum kadang ada yang menggunakan jetshower untuk cebok, namun sebagian besar hanya menyediakan tisue (tanpa ada keran air). 

Beberapa menyediakan semacam bidet dari botol plastik. Bersiap saja membawa bidet portable (yang bisa diganti botol air mineral), tisue basah, tisue kering dan masker. 

Wah kenapa harus pake masker? 

Di beberapa toilet yang saya sempat 'menyimpan jejak' disana, bau pesing menyeruak dengan kencang. Maka bersiaplah masker untuk menutup hidung saat terpaksa harus ke toilet.

Bagi saya yang sudah pernah mengalami mengakses toilet darurat seperti menggali pasir di muara saat camping di jaman kuliah di muara yang masih alami, pakai toilet helikopter di kampung (yang kalau BAB terdengar suara plung ke kolam ikan, atau saat BAB diatas WC yang penuh dengan kotoran ketika melakukan Arbain walk di Irak tahun lalu, rasa rasanya toilet di Uzbekistan masih bisa tertahankan. 
 
OOTD saat panas (wajib bawa topi)

OOTD perjalanan pulang (ransel is a must)

Sendal jepit itu  enak banget dipakai jalan di kota tua Bukara 


Ketiga, Outfit untuk muslimah. 
Uzbekistan sebagai negara bekas jajahan Uni Sovyet dan pernah merasakan era represi pada aspek keagamaan, maka yang berkembang adalah komunitas Islam yang lebih sekuler dibandingkan di Indonesia.  Saya berpakaian dengan pakaian sehari hari di Indonesia, celana panjang dan tshirt, hanya celana panjang memilih yang lebih longgar (biar kalau panas tidak nempel dan angin bisa menyelinap dengan bebas dan tidak berat saat di packingšŸ˜‰).  

Tapi kembali ke senyamannya saja saat memakai pakaian, anggap saja sedang di kota sendiri. Saya paling malas membebani tas dengan outfit yang akan dipakai foto foto macem baju baju lebar, topi rigid dan tas cantik hanya untuk kepentingan 'biar fotonya bagus'.

Di beberapa lokasi yang memerlukan adab seperti beberapa mesjid dan makam disediakan semacam baju panjang digantung di luar ruangan untuk yang kebetulan memakai pakaian sangat minimalis. 

Keempat, obat obatan
Bawalah obat secukupnya terutama obat pribadi, saya menandai obat diare is a must . Di hari ke 4 karena kesukaan saya makan salad tomat dan buah buah dalam jumlah besar (kalap melihat banyak aneka macam buah dengan rasa yang segar) membuat saya sempat diare. 
Untungnya di wadah obat saya selalu tersedia obat diare dan obat demam.

Kelima, jangan ragu bertanya berbagai hal kepada travel misalnya itenerary dan perlengkapan yang dibutuhkan. 

Wesgo cukup apik membuat file untuk persiapan dengan membagikan ebook mengenai jadwal, daftar tempat yang dikunjungi, bacaan awal mengenai sejarah tempat plus tips mempersiapkan perjalanan seperti mata uang, SIM Card, plug yang digunakan di Uzbekistan (sama dengan di Indonesia). 

Dengan helpfull mereka menerima titipan membeli SIM card lokal plus penukaran uang karena di bandara Tashken saya melihat sendiri antrian panjang para turis yang menukar uang/membeli Sim card 

Terakhir, bawalah uang USD secukupnya, perbelanjaan di Uzbekistan kurang lebih sama dengan di Indonesia, makan lengkap (dari mulai makanan pembuka sampai penutup berkisar 60-80 SOM (1 USD = 12660 SOM), air mineral sekitar 4 SOM 1 botolnya, kopi dengan mesin sekitar 25 SOM. 

Aneka oleh oleh beragam harga dari mulai magnet magnet murah seharga 8-10 SOM, pakaian pria dengan motif Uzbekistan seharga 250 SOM sampai benda benda berkelas yang bisa ditemukan di Bukhara. 
Saya ngeces lihat pisau pisau keren yang mengalahkan Solingen, plus berbagai merchandise dari metal yang di carving secara manual ! 

Buddies travel kami tidak pelit dalam memberi informasi misalnya untuk membeli oleh oleh berupa barang barang  murah serta massal bisa didapatkan di pasar Samarkand, dan barang barang seni berkelas bisa di dapatkan di Bukhara.  Informasi ini penting karena jalur perjalanan berurut dari Samarkand ke Bukhara kemudian kembali ke Tashkent  (jadi tak bisa balik lagi ke Samarkand).

Kelompokkan uang untuk berbelanja di Samarkand, Bukhara dan jangan lupa untuk memberi tips pada buddies travel serta bawalah rupiah untuk membeli makan minum saat mendarat kembali di Indonesia.







Banyak burung dimana mana 

Bagian entrance menuju kota tua
kawasan tanpa kendaraan bermotor

Bangunan mesjid di kota tua





Keramik dengan ukuran tinggi tidak sampai 7 cm dengan harga 1200 SOM 
(1.5 jt rupiah)
Biasanya karya2 seni bercerita soal Nasrudin Hoja


Pasar di samarkand dengan barang barang yang jauh lebih murah dibanding Bukara

Salah satu oleh oleh favorit, kacang, kismis, buah2an kering



Karya lukisan Toshev Davlat bernilai minimal 800USD 





Madrasah nadir Divan Begi
Salah satu sudut kota tua di Bukhara, tepatnya di dekat labby house (bibir danau) terdapat lokasi Madrasah tua  Nadir Divan Begi, sebuah bangunan berlantai dua dengan lapangan tengah yang luas. 

Tempat ini digunakan sebagai tempat berjualan merchandise khas Uzbekistan dari mulai kain kain, kerajinan tangan dari kayu, pakaian, sampai pada pandai besi yang membuat kerajinan dari besi serta untuk menonton folklore show sore hari di lapangan tengah bangunan bersejarah tersebut. Ini yang disebut place making yang natural menurut saya 

Uniknya, berdekatan dengan madrasah dibangun juga Khanaka, tempat menginap para sufi dan beruzlah , dan madrasah digunakan untuk para pelajar menginap di lantai 2 . Nadir Divan Begi adalah raja kota Bukara di abad ke 17. Beliau sangat pandai sampai pernah diundang ke Afghanistan untuk menyebarkan ilmu di madrasah madrasah (btw. istilah madrasah ini untuk pendidikan setara Perguruan Tinggi). 

Karena kepiawaiannya dalam mengajar, ia diberi hadiah 2 buah pisau bertahtakan batu mulia yang pada akhirnya sepulang dari India dijualnya untuk membangun kompleks madrasah ini. 

Banyak orang yahudi yang tinggal di lokasi ini, saat membangun madrasah dan
kolam, pemerintahan Nadir Divan Begi meminta penduduk yahudi mengosongkan lokasi ini. Namun ada seorang wanita tua yang menolak pindah kecuali diberi pengganti berupa sebuah sinagoge (tempat ibadah orang yahudi) dibangun juga. Dan sinagoge ini sampai saat ini masih digunakan masyarakat yahudi yang sudah mulai sedikit di Bukara (hanya tinggal 100 an) . 

Menariknya, ini adalah satu satunya madrasah yang didekorasi dengan gaya semua monumen muslim di Asia Tengah namun masih menyisipkan elemen dari masa zoroaster seperti matahari yang memancarkan siniar dengan cahaya untuk menghapus kegelapan, burung phoenix yang konon adalah burung dalam cerita 'Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar yang menggenggam binatang seperti babi sebagai perlambang mengangkat hal haram atau dalam konteks mengejar ilmu terus menerus. 
Padahal dalam kepercayaan islam saat itu tidak boleh menggambarkan mahluk hidup. Madrasah ini dibangun seperti madrasah sherdor di Samarkand namun mengganti portal yang biasanya bergambar Singa dengan burung kebahagiaan yang mistis.  


Dalam pertunjukan folklore selama 1 jam, saya menikmati pertunjukan yang menggabungkan lagu, tari dan fashion show yang ditata apik di halaman tengah madrasah. Para penonton duduk di sekitar halaman sambil menikmati makanan khas Uzbekistan yang disajikan tanpa henti selama pertunjukan. 

Saya menikmati wajah-wajah cantik para penari dan model yang melenggang (dengan gaya 'dingin' orang Rusia) dibalut pakaian khas Uzbekistan yang colorfull yang memadukan pakaian tradisional dan modern.  Tarian yang disajikan berasal dari daerah daerah di Uzbekistan seperti Ferghana. Forezm, Bukhara, Andijan bahkan tarian khas Iran dan Tajikistan diselingi nyanyian dari penyanyi lokal. 

Paket menonton pertunjukan selama kurang lebih 1 jam ini sekitar 80 SOM (untuk paket tanpa makanan/dinner) yang kami pilih karena Wesgo (lagi-lagi) sudah mempersiapkan kejutan saat dinner di hotel. 

Selain pertunjukan, di sekeliling lokasi terdapat banyak workshop kecil merchandise dari mulai lukisan yang digambar sampai workshop besi yang di grafir secara manual oleh para pengrajin sambil duduk diam tangan mereka tetap bekerja dengan tangkas. 
Rupanya ini yang dimaksud guide lokal saat mengantar ke lokasi komunitas Naqsabandiyah di Bukara. 
Saat itu kami menanyakan bagaimana ritual para pengikut tarekat Naqsabandiyah. Ia hanya menjawab bahwa ritual untuk mendekatkan diri kepada Allah di Naqsabandiyah salah satunya para pengrajin di kota tua yang bekerja dengan hening namun tetap memenuhi hatinya dengan Allah. 

Occupy your heart with Allah and your hands with work 
(Bahauddin Naqshband) 





aneka makanan menemani selama pertunjukan



para pria asyik bermain catur di pinggir tempat pertunjukan



Terharu melihat seorang anak membantu ayahnya sepulang sekolah
membuat steel carving dalam hening meskipun 
di luar workshop kecil hingar bingar suara pertunjukan 

 


Comments

Popular posts from this blog

Kembali ke Rumah Mu Dengan Penuh Rasa

Mencinta itu Melepaskan...

Masura Bagatta, Mentawai..